Minggu, 25 Juli 2010

Puisi Untuk KD “Pipi..Pipi..Ini Mimi… Bukan Mimi yang Dulu Lagi…”

Setelah KD membanjiri media dengan air mata saat konferensi pers beberapa bulan lalu tentang Raul dan Ata kini Krisdayanti justru membanjiri media dengan kemesraannya bersama Raul Lemos yang membuat perassan Ata semakin sakit apalagi saat KD berciuman bibir dengan bibir bersama Raul yang masih suami sah Ata. Entah apa maksudnya, mungkinkah hanya ingin memanas-manasi Anang yang semakin mesra dengan Syahrini, mungkin juga hanya ingin cari sensasi karena karirnya yang mulai meredup atau mungkin apakah ini kekeutan cinta buta??

Bukan hanya kasusnya yang semakin memenuhi media dan membuat hujatan bermunculan mulai dari grup di facebook dengan nama Gerakan 1.000.000 Facebookers Anti Krisdayanti , kini muncul puisi untuk Krisdayanti yang berjudul “Pipi..Pipi..Ini Mimi… Bukan Mimi yang Dulu Lagi….” karya Linda Djalil, berikut adalah puisinya,

“Pipi..Pipi..Ini Mimi… Bukan Mimi yang Dulu Lagi….”

Pipi.. Pipi..
Mimi bingung sekarang..
Mengapa banyak mata terbelalak melihat hubungan ini, padahal Mimi hanya ’sekedar’ ingin cinta-cintaan dan yayang-yayangan…
Dengan lelaki yang Mimi anggap keren dahsyat luar biasa dan kelasnya jauh di atas Pipi…

Pipi.. Pipi.. Mengapa bayaran yang aku terima begitu mahal, sampai menembus langitpun rasanya kelewat mahal, anak sudah tak Mimi punya
Tepuk tangan meriah gemuruh dari depan panggung juga sepi rasanya ke mana mereka..
Menghilang.. Lenyap
Bagai aku diludahi sampai ke bawah tanah..
Maka akupun mengumbar air mata, Pi..
Memohon ampun, maaf tiada tara
Karena aku tak tahu lelaki hebat itu sudah berpunya
Anak berderet, istri menanti
Ah, tapi itu kan memang untuk konsumsi publik, Pi..
Sebab meski segala yang dijual di negeri ini kelewat mahal
Masih ada yang murah..
Ya.. Ya.. Harga diri
Dan rasa malu

Betapa Mimi bisa mudah bersandiwara
Dengan harapan segala lagu bisa dicintai lagi oleh semua manusia
Tapi apakah semudah itu, paduka..
Sebab rasa malu yang murah itu juga sudah menjadi gulita

Pipi.. Pipi.. Rumah sekarang sepi
Lantai marmer cokelat muda yang dulu licin bagai padi bersemi sekarang tak lagi berseri
Gelak tawa canda anak-anak tak terdengar lagi..

Pipi.. Pipi..
Mimi bingung sekali lagi
Betapa bayaran yang harus ditebus mahal sekali
Hati seorang ibu yang terguncang hingga tak kuasa lagi kuat berdiri
Hingga jalanpun harus didorong kursi roda ke sana sini

Tapi bagaimana aku bisa membatasi semua ini, Pi…
Dorongan rasa dan hasrat besar tak terbendung lagi..
Melihat air mata dari seberang sana yang masih mengaku istri
Rasanya hanya butir angin sayup-sayup dan aku sungguh tak perduli..

Pipi.. Pipi..
Wajahku yang cantik dipermak setrika habis ini
Toh masih terlihat jauh lebih cantik dari si rambut panjang yang di samping Pipi menyanyi?
Tapi mengapa menggebunya orang menawar manggung tiap hari
Kepadaku sudah tak mampir lagi…

Pipi.. Pipi..
Aku kadang tertawa di dalam hati
Mampuslah semua orang kutipu dengan hati bernyanyi
Kemarin minta maaf kini mengulangi kembali
Air mata yang dulu bergulir ke pipi
Kini bisa kuganti dengan adegan mesra tempel-tempelan pipi
Sembari mengumbar sebentuk cincin yang melilitt di jari..
Agar dipertontonkan oleh layar televisi dan sengaja, agar gemuruh panas membara dari yang mengaku masih jadi istri kembali wajahnya tak sanggup berseri-seri..

Pipi.. Pipi..
Mimi memang bukan yang dulu lagi
Sekali lagi, bukan Mimi yang dulu lagi..
Sebab aku berhak merebut kebebasan sampai tinggi sekali meluas merebak tanpa berpikir malu seribu kali apalagi mengedepankan nurani..
Ah.., itu kan semua ungkapan basi..

Memikirkan kejujuran dan nurani, gini hareeeee….?

I am sorry goodbye Pipi..
Mimi akan selamanya pergi
Meski diam-diam tak kuhindari rasa sakit hati..
Panik.. Panik sekali..
Kok jadi Pipi sekarang yang ke seluruh pelosok top sekali..
Bersama si rambut panjang yang cantik banget meski tanpa operasi..?
Hi…hiiii…hi….air mata ini kembali bergulir deras sebutir nasi..
Aku sepi Pi…
Sesungguhnya batinku sepi…
Sepi sekali..
source: http://media.kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar