Laman

Minggu, 20 Oktober 2013

Makalah Bimbingan Konseling “Punish dan Reward Sebagai Metode Untuk Mengatasi Kenakalan Pelajar”



Makalah Bimbingan Konseling
“Punish dan Reward Sebagai Metode Untuk Mengatasi Kenakalan Pelajar”
BAB I
PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia, oleh karenanya segala pembahasan tentang manusia bersifat tak ada batasnya. Begitu juga tentang perkembangan manusia yang diawali dari bertemunya sel telur dan sperma maka berlanjut-lanjut akan berkembang hingga menjadi manusia yang saattnya nanti mengalami masa remaja. Masa ini dikatakan masa yang asyik, masa yang unik, masa yang paling sulit dan masa yang paling-paling.  Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahu.

Oleh karenanya setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Begitu juga pada masa remaja , terkadang remaja lebih memenuhi tuntutan teman dari pada tuntutan keluarganya, makanya dari sinilah muncul kenakalan remaja. Mereka selalu ingin melakukan hal-hal baru alias coba-coba, mereka ingin melakukan hal yang belum mereka ketahui. Dan bahkan mereka tidak memikirkan dampak positif dan negatif oleh kelakuan mereka. Itulah sebab adanya kenakalan remaja.

Sebagai salah satu metode untuk mengatasi pelajar yang "Nakal" sering kali digunakan punish dan reward sebagai metode untuk mendekatinya. Punish jika remaja / dalam hal ini pelajar melakukan hal yang tidak diinginkan oleh keluarga, masyarakat ataupun sekolahnya. Dan reward jika mereka melakukan sesuai norma yang berlaku. Dengan demikian sangat penting sekali untuk membahas masalah Punish dan Reward Sebagai Metode Untuk Mengatasi Kenakalan Pelajar






BAB II
KAJIAN TEORI

1. PERKEMBANGAN PSIKOLOGI DAN FISIK REMAJA

Perkembangan umum yang dialami pada masa remaja adalah sebagai berikut :
·         Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
·         Emosinya tidak stabil
·         Perkembangan Seksual sangat menonjol
·         Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
·         Terikat erat dengan kelompoknya
Tahap perkembangan remaja  :
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
·         Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
·         Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
·         Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
·         Memperhatikan penampilan
·         Sikapnya tidak menentu/plin-plan
·         Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke
     masa  adolesen. Cirinya:
·         Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
·         Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
    Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
·         perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
·         mulai menyadari akan realitas
·         sikapnya mulai jelas tentang hidup
·         mulai nampak bakat dan minatnya
2. .MACAM - MACAM KENAKALAN PELAJAR
   
Adapun macam – macam kenakalan remaja yang sering terjadi diantaranya adalah :
    1. Berkelahi
Berkelahi antar pelajar atau berkelahi diluar lingkungan sekolah adalah perbuatan yang  sangat bodoh, karena dapat  merusak fasilitas umum dan fasilitas yg terdapat di sekolah.

    2.  Mencoret coret dinding / meja / kursi
Mencoret coret secara ilegal adalah perbuatan yang tidak baik, karena dapat    membuat kotor sekitar lingkungan.Tetapi jika kita melakukannya dengan baik, coretan coretan itu dapat manjadi   karya karya seni yang baik, dan juga dapat manghasilkan mata pancaharian   yang baik .

    3.  Mencuri barang milik orang lain
Mancuri juga dapat merusak nama baik kita, karena jika kita ketahuan mencuri, kita akan merasa sangat malu, dan kita juga akan di jauhi oleh orang orang yang dekat dengan kita, karena orang itu sudah tidak percaya lagi dengan kita.

     4.  Bolos saat KBM berlangsung
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengatakan  kebiasaan anak menghabiskan waktu luang atau membolos saat jam sekolah salah satunya disebabkan karena pelajaran atau kegiatan di sekolah tidak menarik.
“Kalau diperhatikan, anak-anak akan berteriak bahagia ketika mendengar bel istirahat atau bel pulang sekolah,” ungkap Kak Seto, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Lebih lanjut Kak Seto mengatakan, para akedimisi seharusnya lebih memperhatikan kegiatan yang menarik di sekolah sehingga perhatian anak akan fokus pada kegiatan positif di sekolah.
Dia menunjuk, sekolah negeri dan perangkatna yang masih kurang maksimal dalam mengajar kreatif. Bahkan Kak Seto menegaskan, belajar bukanlah kewajiban melainkan hak anak.
“Banyak guru yang tidak melihat proses kreativitas anak. Padahal tipe kecerdasan dan gaya belajar anak yang satu dengan yang lainnya berbeda, tapi semuanya disama ratakan. Ini yang membuat anak tidak betah ada di ruang kelas,” paparnya.

      5.  Merusak fasilitas sekolah
Merusak fasilitas sekolah akan merugikan diri saendiri dan orang lain, karena kita tidak bisa memakai atau manggunakan fasilitas fasilitas tersebut.

 3. METODE PUNISH DAN RIEWARD
                 Penerapa punish  dan pemberian reward yang tepat dan benar pada anak merupakan salah satu faktor yang penting dalam membentuk anak menjadi makhluk sosial yang sehat dan bertanggung jawab dalam hidupnya. Untuk itu pemberian hadiahdan penerapan hukuman haruslah pula memperhatikan aspek perkembangan anak.Dalam membimbing anak didiknya di kelas guru tidak selalu menemukan anak asuhnya berperilaku manis sesuai harapannya. Ada kalanya guru harus memberikan punish tertentu terhadap anak yang lupa aturan kelas, seperti perilaku mengganggu teman, malas belajar, merusak alat-alat sekolah, dan tidak menjagakebersihan.Idealnya pemberian punish , adalah cara terakhir yang dipilih guru, setelah cara-cara lain, seperti pengarahan dan bimbingan serta nasehat-nasehat tidak memadai lagiuntuk mengubah perilaku anak. Dalam hal ini penerapan punish  adalah dalam batas- batas wajar, karena hukuman untuk anak haruslah berfungsi sebagai pendidikan,menghalangi terjadinya pengulangan perilaku yang tidak diharapkan dan dapatmemperkuat motivasi anak untuk menghindarkan diri dari perilaku yang tidak diharapkan. Jika penerapan hukuman ini salah dan tidak tepat pada anak, bisa terjadi, bukannya terselesaikannya masalah perilaku anak, tapi malahan menimbulkan masalah baru pada anak.Paciorek (1997) mengemukakan bahwa dalam pendisiplinan anak hukumanmerupakan penyiksaan anak dalam masalahnya, karena hukuman tidaklah dapat menyelesaikan masalah anak dalam penyesuaian sosialnya. Namun dalam batas-batastertentu, sebagai pilihan akhir dari penyelesaian masalah maka hukuman dalam toleransi tertentu masih dapat diterapkan, karena mempunyai fungsi pendidikan. Oleh karena itu,guru harus dapat memahami anak sehingga penerapan hukuman sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan punish pada anak seharusnyadikombinasikan degan cara-cara lain, terutama yang berkaitan dengan teknik penguatan positif, seperti pemberian reward jika anak menunjukkan perilaku yang positif. Dalamhal ini guru tidak hanya mampu menegur, memarahi, jika anak salah, tetapi jika memanganak menunjukkan perilaku-perilaku positif guru dapat memberikan penguatan- penguatan yang positif dalam bentuk pemberian hadiah.Pemberian hadiah adalah suatu bentuk respons guru terhadap perilaku anak yang positif, yang dapat memberikan kepuasan pada anak terhadap hasil atau prestasi yangdicapainya. Karena reward merupakan suatu bentuk penguatan positif pada anak, makadiharapkan dengan adanya pemberian hadiah ini akan dapat mendorong anak untuk meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku-perilaku positifnya dalam belajar dan dibarengi pula tercapainya hasil belajar yang meningkat.




















BAB III
PENUTUP

Reward merupakan suatu bentuk penguatan positif pada anak, makadiharapkan dengan adanya pemberian hadiah ini akan dapat mendorong anak untuk meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku-perilaku positifnya dalam belajar dan dibarengi pula tercapainya hasil belajar yang meningkat. Sedangkan punish adalah sanksi yang diberikan seseorang agar orang yang dikehendaki tidak melakukan perbuatan yang sama yang tidak diinginkan lagi. pemberian punish , adalah cara terakhir yang dipilih guru, setelah cara-cara lain, seperti pengarahan dan bimbingan serta nasehat-nasehat tidak memadai lagiuntuk mengubah perilaku anak. Dalam hal ini penerapan punish  adalah dalam batas- batas wajar, karena hukuman untuk anak haruslah berfungsi sebagai pendidikan,menghalangi terjadinya pengulangan perilaku yang tidak diharapkan dan dapatmemperkuat motivasi anak untuk menghindarkan diri dari perilaku yang tidak diharapkan.
Begitulah metode punish dan reward diterapkan untuk menagatasi kenakalan pelajar. begitulah pembahasan makalan tentang Punish dan Reward Sebagai Metode Untuk Mengatasi Kenakalan Pelajar.
DAFTAR PUSTAKA
http://bimbingankonselingsiswasmp.blogspot.com/2012/05/makalah-bpbk-bimbingan-konseling.html

3 komentar:

  1. Hey, I had a great time reading your website. Can I contact you through email?. Please email me back.

    Regards,

    Angela
    angelabrooks741 gmail.com

    BalasHapus
  2. I m so glad to visit this blog.This blog is really so amazing

    BalasHapus